Kadang berkarya harus dipaksa !

Kadang berkarya harus dipaksa !

Kadang berkarya harus dipaksa !

Dari dulu pengen punya karya sendiri, tapi apa?
Sering terinspirasi banyak orang sehingga pengen kaya orang tersebut. Misal pas dulu awal-awal booming jualan online lihat Kang Dewa Eka Prayoga keren bangettt, pengen deh punya usaha online sendiri seperti beliau. Maklum saat awam dulu lihat bisnis online itu sepertinya high profit low budget. Cuma modal gadget (laptop/HaPe) ditambah kuota dan sedikit effort broadcast, padahal dalam prakteknya gak segampang itu. Saya perlu belajar tentang konsep bisnis online, jenis-jenisnya, copywriting dan bla bla bla nya, belajarnya aja udah ngabisin banyak “hepeng”.

Lalu perhatiin Pak Jamil Azaini, Saya lihat videonya, baca bukunya, ikut workshop-workhsopnya ada STIFIN, Public Speaking saking terpesonanya lihat pembawaan beliau yang karismatik dan menggugah jiwa meningkatkan motivasi saat beliau berada diatas panggung menularkan kisah inspiratif hidupnya. Saat itu saya putuskan ingin jadi seperti Pak Jamil. dan lagi-lagi cuma pengen aja… kalau kata orang Garut “kahayang hungkul”.

Dan masih banyak lagi orang-orang yang Saya ingin seperti dia. Saking banyaknya yang Saya ingin seperti siapa sampai-sampai Saya tidak menjadi siapa-siapa !

Bahkan seperti tidak menjadi diri sendiri !

Apa yang salah dengan “Saya ingin menjadi siapa” ?
Toh orang yang ingin saya tiru kan orang keren, orang yang menginspirasi hidup orang lain dengan kebaikan.

Tapi kenapa setiap kali “Saya ingin menjadi siapa” saya tidak menjadi siapa-siapa, sebenarnya saya temukan jawabannya saat mengikuti Workshop STIFIN. Saya seorang Sensing Extrovert (Se), yang mudah termovitasi dari luar sehingga lebih melihat semua hal baik yang datang dari luar harus bisa Saya lakukan, TIDAK JUJUR datang dari diri sendiri SEMUA PALSU hanya keinginan hawa nafsu saja. Tapi mungkin ini kePALSUan yang berpahala, karena datangnya dari keinginan berbuat baik.

Tapi lain halnya dengan menulis. Saya ingin berkarya dengan tulisan, dan ini insyaAllah jujur dari diriku. Kenapa?. Karena semakin melarutkan jiwa dan fikiran dalam tulisan, semakin lega dan tenang. Seorang teman pernah menulis “Fikiranku bagaikan ruang berisik yang hening, perlu dituangkan dalam makna. Ada dua cara melakukannya dengan Do’a dan Tulisan” , so Saya mencoba meluapkannya dalam tulisan semoga terdapat makna didalamnya.

Tapi apakan semua keinginan yang TULUS dari diri sendiri akan berjalan mulus?, jawabannya ternyata tidak. Selalu ada tantangan dan rintangan saat kau menuju destinasi akhir, mungkin akan ada ban yang bocor saat memulai perjalanan, akan ada kemacetan saat di tengah perjalanan.

Begitu pula saat akan menulis dan menghasilkan sebuat karya buku, apa lagi ini adalah project buku pertamaku. Belum istiqamah, kebanyakan males, harus banyak baca referensi dan segudang alasan yang Saya buat sendiri.

Terkadang berkarya harus dipaksa, berkomitmen dan umumkan kepada banyak orang caranya. Setidaknya jika kemalasan datang kita punya alasan untuk mengusirnya, karena kita sudah berjanji kepada banyak orang untuk menginspirasi dan akan selalu ada orang-orang yang menanyakan “mana buku mu sudah terbit belum?” , “mana Bar mau baca bukunya dong!”

Sahabat, #BantuAkuJadiBaik ingatkan saudaramu ini untuk menyelesaikan komitmennya ini. ANDA SAKSINYA !

“Saya Muhamad Rizki Akbar, akan menyelesaikan buku pertama saya pada bulan Juli 2018. Yang berjudul Muda(h) Paham Parenting, ketika buku saya terbit akan dibaca banyak orang, menjadi buku BEST SELLER dan mengispirasi kaum MILENIAL agar menjadi pendidik yang powerfull di keluarga”

Depok, 21 Mei 2018
@_KangAkbar