FLOATING ADS
FLOATING ADS
FLOATING ADS
FLOATING ADS
TOP ADS

Burnout: Bukan Hanya Soal Lembur, Ini Faktor Utama Penyebab Kelelahan Kerja Kronis

POST ADS

Kelelahan kerja atau burnout seringkali diasosiasikan secara langsung dengan jam kerja berlebih. Namun, studi dan observasi di lapangan menunjukkan bahwa akar masalah penyebab burnout kerja jauh lebih kompleks dari sekadar durasi waktu yang dihabiskan di kantor. Keluhan burnout, yang kerap muncul dalam berbagai konsultasi profesional, jarang hanya berpusat pada isu lembur semata. Fenomena ini justru lebih banyak dipicu oleh dinamika interpersonal dan kondisi lingkungan kerja yang tidak mendukung.

Menguak Lebih Dalam: Faktor-Faktor Pemicu Burnout

Para pakar di bidang psikologi industri dan organisasi menyebutkan bahwa seseorang mengalami burnout bukan semata karena bekerja terlalu lama, melainkan bagaimana individu tersebut diperlakukan dan kondisi ekosistem kerja yang ada. Banyak kasus menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang toksik dan manajemen yang kurang suportif menjadi pemicu utama kelelahan kronis ini.

Beberapa faktor kunci yang kerap menjadi pemicu burnout meliputi:

  • Usaha atau kontribusi yang tidak dihargai atau diakui secara pantas.
  • Lingkungan kerja yang toksik dan secara konsisten menguras energi mental dan emosional.
  • Konflik atau drama tim yang berkepanjangan tanpa penyelesaian yang efektif.
  • Atasan yang kurang memiliki empati terhadap beban kerja dan tekanan yang dialami karyawan.
  • Beban kerja yang tidak realistis dan melebihi kapasitas manusiawi, tanpa dukungan yang memadai.
  • Minimnya umpan balik atau feedback yang jelas terhadap kinerja, sehingga karyawan merasa tidak memiliki arah.
  • Sistem micromanage kronis yang menghilangkan otonomi dan ruang gerak karyawan.
  • Karyawan tidak pernah dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan penting yang memengaruhi pekerjaannya.
  • Jadwal kerja yang super kaku tanpa adanya fleksibilitas, membatasi keseimbangan hidup-kerja.

Situasi ini diperkuat dengan pengamatan bahwa bekerja lembur sekalipun, jika diiringi dengan apresiasi yang layak dari perusahaan, masih dapat diterima oleh sebagian besar karyawan. Sebaliknya, jam kerja normal sekalipun, apabila harus dijalani dalam lingkungan yang toksik atau minim dukungan, justru menjadi jalan pintas menuju kondisi burnout yang parah.

Resign: Bukan Karena Capek Kerja, Tapi Capek Tidak Dihargai

Pola pikir yang seringkali keliru adalah bahwa karyawan mengundurkan diri dari pekerjaan karena merasa lelah secara fisik akibat jam kerja. Padahal, banyak data menunjukkan bahwa keputusan untuk resign lebih sering didasari oleh perasaan tidak dihargai, kurangnya pengakuan atas kontribusi, dan kondisi mental yang terkuras akibat perlakuan atau lingkungan kerja yang buruk. Ini menegaskan bahwa aspek emosional dan psikologis memiliki peran sentral dalam memicu keputusan tersebut, jauh melampaui perhitungan jam kerja semata.

Secara keseluruhan, fenomena burnout kerja bukanlah isu tunggal yang hanya disebabkan oleh durasi kerja. Ini adalah cerminan kompleks dari interaksi antara individu dengan lingkungan kerjanya, di mana faktor-faktor seperti apresiasi, dukungan manajerial, dan budaya perusahaan memegang peranan krusial. Memahami penyebab burnout kerja yang lebih luas ini menjadi kunci bagi perusahaan untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan berkelanjutan.

Baca juga berita terkait lainnya di www.kangakbar.net untuk informasi terkini seputar dunia kerja dan kesehatan mental.

Meta Comments Box
POST ADS
You might also like